JAKARTA – Presiden Joko Widodo melahirkan entitas perbankan syariah baru bernama PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Orang nomor satu di Indoensia itu akan meluncurkan secara resmi hari ini Senin (1/2/2021) pukul 13.30 WIB di Istana Negara.

PT Bank Syariah Indonesia Tbk. merupakan hasil penggabungan tiga bank syariah BUMN yakni PT Bank BRIsyariah Tbk., PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah.

PT Bank Syariah Indonesia Tbk. akan menjadi nama baru PT Bank BRIsyariah Tbk., sebagai bank penerima penggabungan. Nantinya di perdagangan di Bursa Efek Indonesia PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). tetap menggunakan kode BRIS.

Dilansir dari Bisnis.com, Senin (1/2/2021), Direktur Utama Bank BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo menerangkan bahwa dalam logo PT Bank Syariah Indonesia Tbk. terdapat tanda bintang bersudut lima yang mereprensentasikan 5 Pancasila dan 5 Rukun Islam.

“Dipandu oleh Pancasila dan Rukun Islam, Bank Syariah Indonesia bekerja dengan prinsip kesetaraan, kejujuran, dan inovasi,” demikian kata Abdullah saat Penandatanganan Akta Penggabungan Tiga Bank Syariah Milik Himbara pada 16 Desember 2020.

Lalu bagaimana dengan struktur pemegang saham dari PT BSI?

Dilansir dari CNBCIndonesia, Senin (1/2/2021), bertindak penerima penggabungan atau sebagai surviving entity adalah BRIS yang sudah melantai di pasar modal sejak Mei 2018 silam.

Nantinya, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) akan menjadi pemegang saham pengendali terbesar dengan total kepemilikan mencapai 51,2 %.

PT Bank BNI Tbk (BBNI) menempati posisi kedua dengan kepemilikan saham 25 % dan ketiga adalah PT Bank BRI Tbk (BBRI) yang memiliki saham sebesar 17,4% saham BSI yang akan tetap melantai di pasar modal dengan kode BRIS ini.

Penggabungan ketiga bank syariah yang bertransformasi menjadi PT Bank Styariah Indonesia akan menjadi sektor usaha bank syariah pelat merah terbesar di Indonesia.

CNBCIndonesia menyebutkan, dari sisi aset jika dikonsolidasikan nilainya mencapai Rp 227,8 triliun atau setara dengan 40,5 % dari total industri perbankan syariah yang terdiri dari Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS).

Tidak hanya dari sisi aset saja yang kontribusinya besar, tetapi juga dari pembiayaan yang disalurkan. Nilai pembiayaan total yang disalurkan oleh ketiga bank ini pada September tahun lalu tercatat mencapai Rp 152 triliun.

Dari angka itu, lebih dari 40 % dari total penyaluran pembiayaan dilakukan oleh perbankan syariah.

Sebagai market leader di segmen syariah, BSI diharapkan mampu menjadi motor industri syariah di Tanah Air. Harapannya, merger ini diharapkan bakal meningkatkan efisiensi bisnis internalnya.

Dengan aksi korporasi ini BSI akan menjadi Bank BUKU III dengan modal inti sebesar Rp 20,42 triliun.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *